|
Saturday, 21 May 2011 |
|
Ada beberapa orang Belanda yang namanya cukup melekat di benak rakyat Indonesia. Raymond Pierre Paul Westerling atau lebih dikenal Kapten Westerling salah satunya. Bagi masyakat Sulawesi Selatan, dialah sumber pertumpahan darah dan air mata yang dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 Jiwa atau peristiwa 11 Desember 1946. Selain di Sulsel, ia juga pernah melakukan percobaan kudeta melalui Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dibentuknya di Bandung, Jawa Barat, yang juga menelan cukup banyak korban nyawa.
Westerling lahir di Istanbul, Turki, 31 Agustus 1919 dan meninggal di Purmerend, Belanda, 26 November 1987. Ia adalah anak kedua pasangan Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Meskipun ia berkebangsaan Belanda, Westerling dijuluki ‘Si Turki’ karena lahir di Istanbul. Saat usia lima tahun, orang tuanya berpisah dan Westerling ditinggalkan di panti asuhan. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 21 May 2011 )
|
|
|
Saturday, 21 May 2011 |
|
Sebuah patung tembaga berdiri tegak. Tak ada keterangan yang menjelaskan siapa patung itu. Patung setinggi lebih dari lima meter itu tangan kanannya buntung. Di ketiak kirinya, sebuah penyangga menopang kaki kanannya yang juga buntung. Tak jauh dari patung tanpa nama itu, terdapat dinding datar berisi relief. Relief tersebut memperlihatkan beberapa perempuan dan anak-anak menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di depannya.
Patung buntung itu menjadi simbol orang-orang yang luput dari penembakan namun kondisinya cacat. Jumlah korban yang terkapar di relief tersebut tak lebih dari 20 orang. Tapi, relief tersebut hanyalah penggambaran sekilas peristiwa jatuhnya ribuan korban jiwa di Sulawesi Selatan sekitar tahun 1946-1947 lalu, yang dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 Jiwa. Inilah monumen Korban 40.000 Jiwa, yang terletak di Jalan Langgau Kota Makassar, Sulawesi Selatan. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 21 May 2011 )
|
|
|
Saturday, 26 March 2011 |
|
Jabal Tsur memiliki 458 meter dari permukaan daratan dan berada sekitar empat kilometer di selatan Ka’bah. Batu-batu di Jabal Tsur terlihat sekali bentukan akibat gerusan angin. Melihat Gua Hira dan Gua Tsur seperti melihat batu-batu raksasa yang ditumpuk di atas bukit batu. Gua Tsur memiliki ua pintu. Pertama, pintu kecil ang berada di bagian bawah. Di epannya didirikan tenda tempat ualan berbagai suvenir. Pintu yang ain, lebih lebar berada di bagian tas, kalau masuk hanya menundukkan epala. Beberapa meter di elakang gua ini ada lagi satu gua ang lebih sempit juga dengan dua intu. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 26 March 2011 )
|
|
|
Sunday, 17 October 2010 |
Songgoriti, Negeri di Atas Awan Bagus Suryo
Sejuk selalu menyeruak di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, yang berhias Gunung Arjuno, Gunung Semeru, Gunung Kawi, dan Gunung Panderman. Ranumnya buah apel yang menggantung di dahan-dahan pohon semakin menambah indahnya suasana kota ini. Dan pernahkah Anda menyusuri lebih jauh kota yang sejak zaman Belanda sengaja didesain sebagai tempat peristirahatan.
Sekitar 2 kilometer dari alun-alun Kota Batu, tepatnya di Desa Songgokerto, terdapat objek wisata Songgoriti. Di situ dapat dijumpai perpaduan keindahan alam, budaya, sejarah bahkan hiburan. 'Selamat Datang di Wisata Songgoriti’ demikian kalimat yang tertulis di gapura yang berdiri megah tepat di pinggir jalan poros Kota Batu, akses menuju Kabupaten Kediri. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 17 October 2010 )
|
|
|
Sunday, 17 October 2010 |
Yang masih Tersisa di Sunda Kelapa Iwan Kurniawan
Senja merah ranum mulai meredup di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, pertengahan pekan ini. Satu per satu kapal tradisional yang sudah bermesin motor mulai melepas sauh. Pelabuhan tua yang terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, ini dulunya menjadi incaran dan tempat pertama kalinya bangsa Eropa menginjakkan kaki ke Nusantara. Meski kini fungsi utamanya sebagai pelabuhan di Jakarta sudah digantikan pelabuhan modern Tanjung Priok, kenyataan bahwa tempat ini bertautan dengan perjalanan sejarah bangsa, terutama Kota Jakarta, tak disangsikan lagi. Daerah ini sangat penting karena desa di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal Kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada 22 Juni 1527. Kala itu Sunda Kelapa merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Kota Bogor) yang direbut pasukan Demak dan Cirebon. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 17 October 2010 )
|
|
|
Sunday, 27 June 2010 |
|
Saat berkendara dari Bandung menuju Pantai Pangandaran, Anda akan melewati berbagai lokasi di Kabupaten Ciamis. Di sana mulai dari atas perbukitan sampai pantai, rimbun pohon kelapa tidak putus. Ciamis memang selayaknya Minahasa Utara yang dijuluki Negeri Nyiur Melambai. Namun, di Ciamis, rimbun kelapa tidak berubah jadi kue lezat klapertaart, tapi menumbuhkan industri arang dan tapas kelapa. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 27 June 2010 )
|
|
|