|
Berbicara tentang ma'nu ga'ga (ma'nu=ayam, ga'ga=tergagap-gagap) alias ayam ketawa, tak bisa lepas dari kawasan Sulawesi Selatan. Di tempat itulah ayam ini bermula dan dikembangbiakkan. Penyebarannya mayoritas di wilayah Ajattapareng, seperti Parepare, Sidrap, Barru, dan Pinrang.
Khusus di Sidrap. ayam ketawa hanya dapat ditemukan di sekitar Kecamatan Panca Rijang dan Baranti. Di antaranya di Kampung Simpo, Arasi'e, Rappang, Benteng, Paseno, dan Tonronge. Semua itu merupakan kampung tua yang masuk dalam wilayah bekas pusat Kerajaan Bugis.
Syahdan pada zaman dahulu, ayam ini hanya boleh dipelihara oleh para Raja Bugis dan kaum bangsawan. Bila ada masyarakat jelata diketahui memelihara ayam ini, maka para bangsawan bakal menyitanya. Namun rupanya ciri khas kukuruyuk yang mirip suara orang tertawa, tak mampu dibendung oleh 'benteng' istana kerajaan Bugis. Sekitar 15 tahun lalu, ayam ini sudah mulai dipelihara oleh masyarakat Bugis. Tentunya ketenarannya semakin membuncah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Seirng dengan semakin seringnya kontes adu suara dipertontonkan kepada khalayak.
Begitulah penuturan masyarakat Bugis tentang sejarah ayam tertawa ini. Seperti yang diungkapkan oleh H Andi Sutomo, pendiri Forkom P4 AKSI (Forum Komunikasi Pecinta Pelestari Penggemar dan Peternak Ayam Ketawa Seluruh Indonesia), terdengar bersemangat menceritakan sejarah ayam ketawa saat ditemui tim Flona di kompleks Squadron Halim, Jakarta. "Ayam ketawa hanya ada di kampung halaman kami," ujar pria asal Sidrap, Sulawesi Selatan.
Hal yang sama dikemukakan oleh Sudirman, peternak ayam ketawa di Meruya, Jakarta Selatan. Menurut pria yang mulai menernak ayam ketawa sekitar setahun yang lalu, sebeum diperlombakan untuk mengadu kemerduan suaranya, ada alasan lain mengapa para bangsawan begitu gandrung memelihara ayam ini. "Ada kepercayaan kalau memelihara ma'nu ga'ga dengan warna bulu tertentu, bisa mendatangkan keberuntungan," ujar Dirman, beitu ia biasa disapa.
Salah satu ayam ketawa yang dipercaya bisa menjadi penunjuk adanya rezeki adalah Korro. Ayam ini berkelir dasar warna hitam dengan punggung kuning keemasan. Sementara yang dianggap bisa menarik rezeki (harta) di mana-mana adalan varian Ceppaga. "Kepercayaan ini berdasarkan adanya kelir keputihan yang bertaburan di dada hingga perut ayam. Warna itu dipercaya sebagai tanda rezeki," ujar Dirman.
Lalu ada jenis Lappung. Kelir merah kekuningan yang terlihat mendominasi pada tubuhnya dipercaya mampu mengumpulkan rezeki. Ada juga jenis Bakka. Yaitu ayam dengan dominasi warna putih pada seluruh tubuhnya. Terkecuali pada bagian pangkal sayap yang justru harus berkelir merah kekuningan. Varian ini berperan untuk mengembangkan rezeki si pemilik.
Hingga kini, keempat varian ayam tersebut masih disukai di kalangan masyarakat Bugis. Apalagi bila ayam tersebut bersuara merdu. Seperti yang diungkapkan oleh Ireng, peternak ayam ketawa di Depok. "Di Sulawesi Selatan, banyak orang menyukai tipe warna seperti bakka dan lappung," kata Ireng.
Keberadaan ayam ketawa pun sebenarnya sudah terdeteksi oleh para ahli perunggasan. Seperti yang dikemukakan Dr Siti Nuramaliati Prijono, peneliti aneka ayam dari LIPI Pusat Penelitian Biologi. Menurut Lili, begitu biasanya ibu ini disapa, ayam ketawa termasuk dalam 31 rumpun ayam yang ada di Indonesia. "Ayam ketawa adalah kekhasan lokal daerah Sidrap," ujar Lili.
Menurut Lili, pada suatu masa masyarakat di daerah Sidrap menemukan ayam dengan kelainan suara pada saat berkokok. Lalu mereka mulai mengawinkannya dengan ayam betina lokal. Ketika keturunannya ada yang mengalami kelainan suara, ayam itu juga dikawinkan lagi dan diperlakukan secara istimewa. "Begitu seterusnya sehingga diperoleh ayam ketawa seperti sekarang ini," kata Lili.***infokito
***disadur dari sebuah tulisan di flona
ayam, ayam tertawa, bugis, sulawesi selatan, sulawesi, sidrap ___dilihat 1358 kali___ |