|
Glodok atawa China Town, yang oleh warga Belanda di Batavia mereka sebut Chinesche Kamp (Kampung Tjina), diabadikan pada 1957. Bagaimana simpang siurnya kendaraan sekitar 55 tahun lalu, tidak kalah dengan saat ini. Yang mencolok, kita tidak melihat satu pun mobil buatan Jepang yang kini menjadi raja jalanan di nusantara. Kendaraan merek Opel, Austin, dan Fiat, semuanya buatan Jerman, Inggris, dan Italia.
Di kiri dan kanan jalan, terlihat oplet angkutan penumpang kala itu. Tapi, yang jelas tidak kelihatan sepeda motor yang sekarang jumlahnya seabrek-abrek. Masih terlihat rel trem listrik yang menghubungkan Pasar Ikan dan Kampung Mekayu (Meester Cornelis).

Glodok 1957 - Didominasi Kendaraan Eropa [Foto: Dokumen arsip nasional] Sampai 1960-an, Glodok, yang juga dikenal dengan nama Pecinan, merupakan pusat perdagangan dan bisnis terbesar di Ibu Kota, di mana para pembelinya berdatangan dari berbagai tempat di nusantara. Bahkan ketika itu, sebagian besar uang yang beredar di nusantara berasal dari Glodok.
Di masa Bung Karno, Glodok merupakan tempat jual beli barang selundupan. Yang jelas, Glodok tempo doeloe atau di zaman VOC, terletak di luar Kota Batavia berbenteng. Setelah terjadi huruhara Oktober 1740 yang menewaskan ribuan warga Cina, mereka dilarang tinggal di dalam kota. Kemudian, VOC memindahkan mereka di tempat yang sekarang bernama Glodok.
Nama Glodok berasal dari suara air yang berbunyi “grojok ...grojok”, yang mengalir di sepanjang Kali Ciliwung (Kanal Molenvliet). Di Glodok, kita dapati banyak tempat yang punya nilai sejarah. Seperti Jalan Kemenangan III yang sebelumnya bernama Jalan Patekoan. Di jalan ini, kita temui rumah keluarga Souw yang dikenal cukup kaya dan dermawan. Jalan Patekoan, nama Jalan Perniagaan dulu, berasal dari kata patg te koan yang berarti delapan poci teh.
Alkisah, Kapiten Cina Gan Djie memiliki seorang istri yang sangat baik, berasal dari Bali. Setiap hari sang istri menyediakan delapan poci berisi air teh di jalan itu agar masyarakat dapat meneguk air jika kehausan. Angka delapan bagi orang Tionghoa adalah angka keberuntungan.
Di dekatnya terdapat Sekolah Cina yang kini menjadi SMUN 19 Jakarta. Warga setempat menyebut sekolah cap kau, artinya ‘sembilan belas’. Di tempat inilah pertama kali didirikan organisasi modern, yaitu Tiong Hoa Hwee Koan, pada 1900, yang menginspirasi berdirinya Boedi Oetomo 1908. Tempat berdirinya Pasar Glodok sekarang, dulunya merupakan sebuah lapangan terbuka yang kemudian dikenal dengan sebutan tanah lapang Glodok (Glodoksplein).***alwi shahab/republika ***disadur dari sebuah tulisan alwi shahab di harian republika
glodok, batavia, kendaraan ___dilihat 1185 kali___ |