| Inflasi Sumsel 0,28 Persen |
|
|
|
| The News - Berita Sumatera Selatan | |
| Tuesday, 02 March 2010 | |
|
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat pergerakan inflasi Sumsel Sumsel mencapai 0,28 persen. Nilai ini ditunjukkan dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 118,79 persen (per Januari 2010) menjadi 119,12 persen periode Februari 2010.
Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS Sumsel, Nazaruddin Latief, mengatakan nilai tersebut adalah hasil pemantauan harga untuk 360 komoditas di beberapa pasar yakni pasar 16 Ilir, Cinde Lemabang dan Km 5 selama Februari 2010. Dikatakan penyebab inflasi karena ada kenaikan IHK untuk enam kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan mencapai 0,64 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar pada 0,31 persen, kelompok sandang 0,04 persen, kelompok kesehatan 0,24 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,10 persen dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0, 18 persen. “Enam kelompok itu yang menyebabkan timbulnya inflasi,” kata Nazaruddin di aula BPS Sumsel, Senin (1/3). Sementara inflasi tahun kalender 2010 (Januari-Februari 2010) di Palembang mencapai 0,89 persen dan inflasi year on year (Februari 2010 terhadap Februari 2009) sebesar 2,67 persen. Data ini juga berdasar pemantauan di 66 kota di Indonesia. “Setelah di proses menunjukkan bahwa 52 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi,” kata Nazaruddin. Inflasi tertinggi berasal dari Tarakan sebesar 1,82 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Jember 0,04 persen. Sedang deflasi tertinggi terjadi di Kota Maumere dengan persentase minus 1,30 persen dan terendah terjadi di Kota Ternate yang minus 0,07 persen. Khusus di Sumbagsel, lanjut Nazaruddin, terdapat lima kota yang mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Bandar Lampung 0,54 persen dan inflasi terendah terjadi di Bengkulu mencapai 0,11 persen. “Sementara deflasi hanya terjadi di Kota Jambi -0,36 persen,” jelasnya. Berdasarkan data itu, terjadi perbedaan inflasi pedesaan periode Februari 2010 yang nilainya lebih tinggi 1,47 persen dibandingkan inflasi perkotaan sebesar 0,28 persen. Ini lantaran tingkat harga riil serta konsumsi yang tinggi terjadi dipedesaan jauh lebih besar dibandingkan perkotaan.***(sta/sripo) |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 March 2010 ) | |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

















