|
Latihan Militer Belanda di Waterlooplein |
|
|
|
|
Sejarah -
Bandar Jakarta
|
|
Monday, 23 May 2011 |
|
Foto tahun 1930-an menunjukkan saat pasukan artileri Belanda mengadakan latihan di Waterlooplein (Lapangan Banteng). Beberapa prajurit KNIL berseragam cokelat muda dan topi rotan (topi pandu) buatan Tangerang tengah ‘membidik’ sasarannya di meriam artileri anti serangan udara. Latihan ini diadakan untuk kemungkinan menghadapi serangan Jerman yang saat pemerintahan Nazi (Hitler) menjadi musuh Belanda dan menduduki negeri kincir angin.
Gedung megah di bagian kanan adalah Gereja Katedral tempat peribadatan umat Katolik. Agama Katolik baru diperbolehkan di Hindia Belanda setelah Belanda ditaklukkan Prancis (1805). Karenanya, ketika masa Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), baru agama Katolik diperbolehkan dan dibangunlah Katedral yang hingga kini masih berdiri dengan megah.
Di depan Katedral, terdapat Masjid Istiqlal yang ketika itu masih merupakan Wilhelmina Park untuk mengabadikan nama Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix. Lapangan Banteng sendiri didirikan oleh Daendels dengan nama ‘Lapangan Parade’. Tapi, pada 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Monumen Waterloo yang merupakan ejekan atas kekalahan Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte di Waterloo (Belgia) sebagai ejekan Belanda terhadap Napoleon (Prancis) yang pernah menjadi musuh bebuyutan Belanda.
Di atas monumen terdapat patung singa dan terkenallah nama Lapangan Singa. Monumen ini diruntuhkan pada masa Jepang (1942-1945). Setelah kemerdekaan, Bung Karno menggantinya menjadi Lapangan Banteng hingga sekarang.
Sejak awal, Gubernur Jenderal Daendels menjadikan daerah ini sebagai kompleks militer. Yang hingga kini masih kita dapati bekas-bekasnya. Seperti di Jalan Kwini, bagian belakang Hotel Borobudur yang dibangun pada masa Bung Karno dulunya merupakan salah satu markas marinir. Sampai masa Panglima Kodam V Jaya Jenderal Umar Wirahadikusumah dan Jenderal Amir Machmud, mereka bermarkas di sekitar Lapangan Banteng.
Sebelum dibangun Hotel Borobudur—semula Bung Karno ingin menamakan Hotel Banteng—terdapat barak-barak dan perumahan militer. Bahkan, lokasi Kementerian Agama dulunya merupakan perumahan para perwira yang ditandai dengan nama Jalan Perwira. Belanda juga membangun sebuah rumah sakit militer yang besar yang kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto. Perumahan perwira dan prajurit juga terdapat di Jalan Siliwangi yang kini menjadi bagian dari Atrium Senen.***Alwi Shahab/Republika/infokito ***disadur dari sebuah tulisan Alwi Shahab di harian republika
latihan militer, militer, belanda, lapangan banteng ___dilihat 1440 kali___ |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 23 May 2011 )
|