| Menelusuri Sejarah Tradisi Ziarah Kubra di Palembang |
|
|
|
| Info Palembang - Khazanah Palembang | |
| Sunday, 11 July 2010 | |
|
Tradisi ziarah kubra sudah berlangsung sejak 40 tahun lalu di Palembang. Kala itu, ziarah hanya dihadiri segelintir ulama dan masyarakat. Delapan tahun lalu, jumlah pesertanya membeludak hingga 700 umat muslim. Pada 2009, lebih fantastis lagi. Sekitar 12.000 ribu umat muslim se-Indonesia hingga mancanegara ikut menghadiri acara yang umumnya diikuti anak, cucu serta pecinta ulama dan auliya' (para wali Allah SWT) Palembang Darussalam. Kota Solo boleh saja terkenal dengan acara Maulid Nabi, yang dihadiri puluhan ribu umat muslim. Jogjakarta pun terkenal dengan acara sekaten. Nah, Kota Palembang patut berbangga. Haul ziarah kubra yang berarti ziarah besar-besaran, dapat menyamai acara di dua kota tersebut. Tahun 2009 lalu, sekitar 200 umat muslim asal Malaysia, Singapura, Thailand, Yaman hingga Arab Saudi ikut menghadiri acara ini. Mereka berbaur dengan umat muslim dari kabupaten/kota se-Sumatera Selatan (Sumsel) ditambah dari Lampung, Jambi, Bangka Belitung (Babel), Medan, Jawa, Kalimantan hingga mencapai 3.000 orang lebih. Ziarah kubra layaknya sebuah wisata bernuansa religi. Auliya yang tak Ingin Terkenal Ustadz Syukri bin Ali Shahab, ketua panitia haul ziarah kubra kepada Sumeks Minggu, Selasa (6/7) lalu menceritakan, awalnya acara ini dipelopori ulama Palembang sekitar 40 tahun lalu. Di antaranya, Al Arif Billah Al Habib bin Ahmad Bahsin, Al Arif Billah Al Habib Muhammad bin Umar Maulakhilah, Ad Da Ilallah Al Habib Ali bin Abubakar Al Kaf, Al Habib Al Barokah Abdurahman Assegaf, Ad Dai Ilahlah Al Habib Muhammad bin Hamid bin Syeikh Abubakar, Al Habib Al Barokah Ahamd bin Zain bin Shahab, Al Habib Al Barokah Isa bin Muhammad Al Kaf, Al Habib Barokah Muhammad bin Syeikh Al Kaf, Masagus Abdurahman, Raden Muhammad Karim. Pesertanya kala itu hanya dihadiri segelintir orang, namun mereka tetap bersemangat. Tujuannya sederhana, mendoakan pendahulu, baik ulama serta auliya yang banyak berjasa menyebarkan syiar Islam di Palembang, Sumsel, termasuk Indonesia hingga dunia. Mereka juga mengambil teladan para auliya dalam menyebarkan agama Islam. Karena tidak dapat dipungkiri, banyak wali-wali Allah Swt menyiarkan Islam hingga akhirnya meninggal lalu dimakamkan di metropolis. "Mbah Priok itu asal Palembang. Sejak rencana pembongkaran makamnya, orang seakan baru melek dengan Palembang. Padahal, ulama sekelas Mbah Priok banyak di sini. Hanya saja mereka itu khumul. Tidak mau dikenal akan kelebihannya. Tapi sekarang Allah mengangkat mereka karena kelebihan dimiliki,” ungkap Syukri. Alasan lain, ziarah dilakukan pada akhir bulan Syaban atau memasuki bulan Ramadan dilakukan bersama-sama (kubra) dapat membuat peziarah lebih khusyuk. Doa dilakukan lebih dari 40 orang pun diyakini lebih cepat dikabulkan. "Paling tidak, satu dari beberapa doa disampaikan 40 orang dikabulkan Allah,” ungkap Syukri. ![]() Inilah salah satu kegiatan dari rangkaian acara ziarah kubra dihadiri umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Para pecinta ulama dan auliya ini tampak khusyuk berdoa bersama-sama. Mendoakan ulama yang dulunya banyak berjasa menyebarkan agama Islam di Palembang, Sumsel, termasuk Indonesia hingga dunia [FOTO: BUDIMAN/SUMEKS MINGGU] Jadi Menantu dan Pejabat Kesultanan Tempat yang satu ini mempunyai alasan tersendiri. Selain dianggap ulama yang mumpuni, Kesultanan Palembang mempunyai hubungan erat dengan tokoh ulama serta auliya yang dulunya datang dari Hadramaut, salah satu kota di Yaman Selatan. Saking dekatnya, Sultan mengangkat mereka sebagai menantu, penasihat, bendahara hingga panglima perang. Meski mempunyai garis keturunan kesultanan, para warga Arab yang banyak berada di tepian Sungai Musi, sama sekali tidak menonjolkan diri. Meski begitu, urusan silaturahmi dengan zuriat kesultanan tetap dijaga. Warga Arab di Palembang pun lebih suka disebut masyarakat pribumi. "Karena ketika tokoh penyebar agama datang dari Yaman, mereka tidak membawa pasangan. Mereka menikah dengan gadis pribumi,” urai Reza. Makam lainya lanjut Reza, Kawah Tekurep, Aulia Kambang Koci di dekat pelabuhan peti kemas Boom Baru. Bedanya, karena dihadiri sedikit orang, ziarah dapat dilakukan selama satu hari. Tahun ini ziarah kubra diperkirakan akan diikuti 12.000 orang. Ziarah dilakukan selama tiga hari. Mulai Jumat (30/7) Sampai Minggu (1/8). "Dan salah satu ciri khas yang menjadi tradisi ziarah kubra, peziarah biasanya berjalan dari satu makam ke makam lainnya. Khusus orang tua, disiapkan becak hias,” jelas Syukri. Pendanaan dari Pecinta Ulama dan Auliya Tujuan kedatangan puluhan ribu umat muslim tentu saja tidak jauh berbeda dengan ulama pelopor ziarah kubra ini. Selain silaturahmi, memperoleh bagian keberkahan dari orang yang dekat dengan Allah Swt, mengingat kematian, di satu sisi pengunjung mendapat perhatian khusus dari panitia. Hal yang membuat mereka betah di kota empek-empek ini. Peserta ziarah kubra datangan, lanjut Reza, tidak perlu repot memikirkan tempat menginap. Memang banyak dari mereka menginap di hotel atau penginapan. Hanya saja, panitia selalu menyiapkan rumah-rumah warga hingga musala bagi pengunjung untuk beristirahat. Termasuk menjaga kebutuhan transportasi. Bahkan, bagi kaum muslim manca negara, tiga tahun terakhir diajak melihat keindahan Sungai Musi. Menggunakan kapal pesiar disediakan wali kota Palembang, ibarat turis mereka diajak mengunjungi Masjid Ki Merogan hingga Pulo Kemaro. Makanan pun disiapkan. Selain roti, menu nasi kebuli kambing plus sambal nanas disajikan dalam keadaan hangat, satu hidangan untuk empat orang menjadi ciri khas. Saat puncak acara, panitia tidak sungkan turun langsung menyiapkan makanan dari piring ke piring para tamu. Hal yang membuat silaturahmi makin terjaga. Tingginya nilai religius serta banyak sisi positif dari kegiatan ini, salah satu ustadz asal Klantan Malaysia kata Reza, pernah memberikan ancaman. Maksudnya, akan menuntut jika rutinitas religi ini terputus. "Bilangnya memang seperti itu. Kalau sampai ziarah ini terputus, dia akan menuntut dunia dan akhirat,” ungkap Reza. Syukuran Kawinan hingga Pemberian Nama Anak Gratis
Kata Kunciziarah kubro, tradisi, ziarah, tradisi ziarah, budaya, wisata religi___dilihat 2127 kali___ |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 11 July 2010 ) | |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


















