|
Bila ingin berwisata ke Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna, di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), sayang rasanya bila tidak singgah ke rumah adat suku Lio, di sekitar Moni.
Setelah hampir lima jam perjalanan darat dari Maumere yang sepanjang jalannya penuh kelok, sampailah di Dusun Jopu, Kampung Rangkese, Desa Wolokuli, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Di kampung ini tubuh terasa segar karena hembusan udara sejuk. Kondisi suhu yang jauh berbeda dengan Maumere yang panas. Beberapa rumah adat suku Lio mirip rumah panggung (tetapi tidak terlalu tinggi dari tanah) dengan atap mengerucut tinggi bisa ditemui di lokasi ini. Namun, ada satu rumah adat besar, yakni Saoria (sao= rumah, ria= besar). Itulah sebabnya biasa dipakai untuk upacara adat.
Saoria terbuat dari beberapa jenis kayu, yakni kayu singgi, nara, dan kayu fowo; lantainya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari alang-alang yang sudah dikeringkan setinggi lima meter. Untuk masuk ke dalam rumah seseorang harus menggunakan tangga, tetapi harus menunduk dan setengah merangkak untuk bisa masuk ke ruangannya karena tinggi pintu masuk hanya satu meter.
Ruang rumah juga cuma dilengkapi jendela-jendela kecil, sedangkan di bagian dalam atap berbentuk kerucut dan ada suatu tempat di mana benda benda sakral disimpan. "Boleh masuk, tetapi harus lepas sepatu atau sandal," ujar seorang lelaki setengah baya berikat kepala kain tenun yang tiba-tiba saja menghampiri rombongan wartawan dan tim Departemen Kesehatan pada akhir November 2009 lalu. Saoria rumah adat suku Sukalumba [Foto: MI/ ROSMERY SIHOMBING] Pria itu ternyata mosalaki (kepala suku) Sukalumba bernama Philipus, 83. Didampingi putrinya Maria yang membawa beberapa potong hasil tenunannya, ia bercerita mengenai sejarah rumah adat tersebut. "Usia rumah ini sudah 500 tahun. Saya generasi kelima dari suku Sukalumba. Generasi sebelumnya adalah Suka, Siu, Wia, dan Noo. Noo hidup 105 tahun," jelas bapak sembilan anak dengan 60 cucu dan cicit itu.
Ia menjelaskan di rumah adat hanya dia yang boleh tidur pada malam hari, siapa pun termasuk anak istri tidak diperkenankan masuk. "Kalau sehari-hari, seperti mandi, makan dan minum di rumah bersama istri dan anak-anak," ujar Philipus sambil menunjuk rumahnya beratapkan parabola yang tidak jauh dari rumah adat. Lebih lanjut, Philipus menjelaskan istri kepala suku boleh menemani ketika ada upacara adat saja, yakni setiap April, yakni saat panen dan Oktober saat penanaman padi. Pada bulan-bulan itu semua warga berkumpul di halaman Saoria.
Menurut Philipus, umumnya penduduk menanam ubi, padi, agung, dan kakao (cokelat). Ibu rumah tangga dan para perempuan dewasa membuat kain tenun ikat untuk dipakai sendiri dan dijual kepada wisatawan dan dijual di pasar saat hari-hari pasar. "Kami menenun dengan dua jenis benang, yakni yang warnanya dari bahan kimia (pabrik), dan alam (getah getah pohon). Tenun dengan warna alami harganya jauh lebih mahal. Untuk sarung mulai dari Rp400 ribu hingga jutaan rupiah. Kalau benang dengan warna kimia bisa di bawah Rp300 ribu," ujar Maria sambil menjajakan hasil tenunnya. Untuk memperolehnya bisa ke kampung kampung atau ke Pasar Moni***S-3/media-indonesia
**dikutip dari sebuah tulisan Rosmery Sihombing (
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
) di harian media indonesia
lio, rumah adat, rumah adat lio, NTT, nusa tenggara, ende,Saoria ___dilihat 1746 kali___ |