jasad adam ... ruh muhammad ...
 
Kamis, 23 Februari 2012 • 30 Rabiul Awal 1433 Hijriah

Popular Content Scroller

Depresi Pasca Stroke dan Pengobatannya
Jasa Pengecatan Motif Petir
Melayani jasa pengecatan rumah, bangunan, tiang, pagar, kusen, taman dan CAT PETIR/DEKORASI untuk wilayah kota Palembang dan sekitarnya
Hub: SALIN - 085267076558
Notaris Rumiati Laila, SH
Jl. Letjen H. Alamsyah Ratu Prawira Negara No. 12 - Bukit Baru Palembang 30139 - Telepon (0711) 446050

 
Pasang Iklan
yahoo messenger status
infokito on facebook
 

Jadwal Sholat

Perkiraan Cuaca Kota Besar di Indonesia

sumber: bmg.go.id
Home arrow Blog arrow Pengorbanan 40.000 Jiwa Rakyat Sulawesi Selatan

selamat datang di portal infokito network - jembatan informasi kito                -- Info Terpadu Kota Palembang --          
Pengorbanan 40.000 Jiwa Rakyat Sulawesi Selatan PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 3
BurukTerbaik 
Pernik - Peristiwa
Saturday, 21 May 2011

Sebuah patung tembaga berdiri tegak. Tak ada keterangan yang menjelaskan siapa patung itu. Patung setinggi lebih dari lima meter itu tangan kanannya buntung. Di ketiak kirinya, sebuah penyangga menopang kaki kanannya yang juga buntung. Tak jauh dari patung tanpa nama itu, terdapat dinding datar berisi relief. Relief tersebut memperlihatkan beberapa perempuan dan anak-anak menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di depannya.

Patung buntung itu menjadi simbol orang-orang yang luput dari penembakan namun kondisinya cacat. Jumlah korban yang terkapar di relief tersebut tak lebih dari 20 orang. Tapi, relief tersebut hanyalah penggambaran sekilas peristiwa jatuhnya ribuan korban jiwa di Sulawesi Selatan sekitar tahun 1946-1947 lalu, yang dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 Jiwa. Inilah monumen Korban 40.000 Jiwa, yang terletak di Jalan Langgau Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

relief

Angka itu sungguh sangat banyak. Tak pernah ada yang mendata secara langsung berapa korban yang jatuh. Namun, memang ada ribuan masyarakat, warga biasa, tentara rakyat, bangsawan, dan pemimpin-pemimpin pemberontakan masa kolonial yang tewas dalam peristiwa tersebut. Konon, di bawah patung berkaki buntung itu adalah lubang di mana puluhan mayat yang sudah ditembak kemudian dikuburkan dalam satu lubang.

Sedangkan, Muchtar, salah seorang guide di Museum Lagaligo, yang salah satunya mengoleksi sejumlah foto-foto pahlawan yang wafat dalam peristiwa itu, mengatakan bahwa sekitar 200 meter dari monumen itu ada satu tempat yang kini menjadi kompleks pemakaman Islam bernama Butta Tianang, yang artinya tanah yang membubung seolah orang sedang hamil.

Butta Tianang ini juga menjadi salah satu tempat dikuburkannya sekitar 200 orang yang sudah ditembak mati oleh pasukan Raymond Pierre Paul Westerling, seorang Belanda kelahiran Turki, yang pada Juli 1946 diangkat menjadi komandan Depot Speciale Troepen (DST) atau pasukan khusus.

Pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia memang telah diproklamasikan di Jakarta. Namun, rakyat Indonesia belum berhenti berurusan dengan Belanda. Di saat para pemimpin kemerdekaan Indonesia sedang berunding dengan Belanda di Linggarjati (1946), perlawanan rakyat terus berkecamuk di luar Jawa. Sulawesi Selatan, termasuk satu di antaranya.

Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda. Di satu pihak, kabar telah diproklamasikannya kemerdekaan RI mendapat sambutan hangat rakyat Sulsel. Raja-raja di daerah ini, bersama pemimpin pergerakan kebangsaan Indonesia, sama-sama mulai menyusun pemerintahan RI di Sulsel.

Pendaratan tentara Nederlands Indischew Civil Administration (NICA) yang datang memboncengi tentara sekutu, dengan maksud menjajah dan berkuasa kembali, ditentang keras rakyat Sulsel. Kedatangan mereka menimbulkan reaksi perlawanan sengit dari raja-raja, para pemuda, dan organisasi-organisasi kelaskaran yang ada.

Raja-raja di Sulsel yang memimpin rakyatnya melakukan perlawanan, antara lain Andi Mappanyukki (Raja Bone), Andi Djemma (Datu Luwu), Andi Makkasau (Datu Suppa Toa), Andi Abdullah Bau Massepe (Datu Suppa Lolo), Lawawoi Karaeng Sigeri, Andi Cammi, Andi Ninnong, Karaeng Polombangkeng, Depu Mara’dia Ba lanipa, Andi Sultan Daeng Raja, dan Rang gong Daeng Romo.

Dari pergerakan nasional, ada nama-nama seperti GSSJ Ratu langi, Andi Pangerang Petta Rani, Lanto Daeng Pasewang, Latumahina, dan Manai Sopian. Berbagai serangan dan perlawanan yang dilancarkan raja-raja bersama kelompok pergerakan itu cukup menggelisahkan pihak Belanda. Akhirnya, pada 9 November 1946, markas besar Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda mengirimkan pasukan khusus. Westerling ditunjuk sebagai pemimpinnya. Ia tiba di Makassar pada 5 Desember 1946 dan memimpin 120 orang pasukan khusus. Pasukan ini bermarkas di daerah Mattoangin.

Belum cukup sepuluh hari setibanya di Makassar, Westerling mulai melancarkan aksi. Di wilayah Batua, desa kecil di sebelah timur Makassar ketika itu, pada malam 11 Desember 1946, ia dan pasukannya mengepung tempat itu. Rumah-rumah digeledah untuk mencari para pemimpin pergerakan rakyat. Seluruh rakyat dikumpulkan dan digiring ke tempat terbuka.

Ia menyodorkan sederet nama yang masuk dalam daftar pencariannya. Yang teridentifikasi, orangnya betul atau salah, langsung ditembak di tempat. Westerling dan pasukannya terus melakukan penyisiran di sejumlah tempat. Di wilayah Kalukuang, Tanjung Bunga, Jongaya, dan lainnya, warga ditembaki dengan pola yang sama.

Dikumpulkan di wilayah terbuka, diinterogasi apakah namanya ada dalam daftar atau mengenal nama-nama di dalam daftar pencariannya. Dijawab benar atau tidak, tetap saja mereka didor! Pencarian para pemimpin pergerakan menentang Belanda terus dilakukan Westerling hingga keluar Makassar. Hampir seluruh daerah di wilayah ini bergolak. Pencarian terus dilakukannya hingga Kabupaten Barru, Pare-Pare, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, dan Enrekang.

“Ayah ditangkap, lalu dibawa ke Makassar. Tak lama terdengar kabar, beliau ditembak di daerah Pinrang. Ibu juga ditangkap dan dibawa berkeliling wilayah Pare-Pare. Belanda sengaja memperlihatkan orang-orang yang dikumpulkan, kemudian ditembak mati di hadapan ibu saya.”

Cerita pilu, kejam, dan keji. Begitulah kisah yang meluncur dari mulut Bau Kuneng Bau Massepe (76 tahun), putra tertua Andi Abdullah Bau Massepe. Bau Massepe adalah pejuang heroik di Sulsel. Saat masih dalam tahanan Belanda, ia diangkat oleh pimpinan perjuangan Sulsel sebagai panglima pertama Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia di anugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 serta Bintang Mahaputra Adipradana.

Putra Datu Suppa Lolo ini mengisahkan—Ia menyaksikan langsung—suatu siang, serombongan tentara Belanda mendatangi kediaman keluarga bangsawan ini di Pare-Pare. Bau Massepe kemudian dibawa bersama puluhan orang dengan menggunakan truk ke Makassar. Sebelum meninggalkan tempat, pasukan Westerling membumihanguskan rumah-rumah warga. Kuneng yang ketika itu masih berusia sepuluh tahun, dibawa lari dan diselamatkan oleh kerabatnya.

Beberapa hari kemudian, ibunda Bau Kuneng, Andi Soji Petta Kanje’ne, yang baru 30 hari usai melahirkan, ikut diambil paksa. Soji memang tak ditembak. Sambil menggendong bayinya, Soji dibawa mengitari wilayah Pare-Pare. Pasukan Westerling sengaja mempertontonkan kekejaman mereka dan menembaki para warga tak berdosa di hadapan istri Bau Massepe. “Itu teror mental yang sangat kejam terhadap ibu saya, agar ibu mau membujuk Bau Massepe mendukung Belanda,” ujar Kuneng.

Saat Belanda mengetahui jika salah seorang tahanan mereka adalah Bau Massepe, ia pun dipindahkan ke Pinrang. Tanpa diadili, Bau Massepe langsung dieksekusi. Kabar Bau Massepe tertembak sampai di telinga keluarganya pada 2 Februari 1947. Namun, jasadnya tak diketahui keberadaannya.

Pencarian jenazah Bau Massepe baru dilakukan setelah penyerahan kedaulatan RI pada 27 Desember 1949. Jenazah itu baru dipindahkan ke Pare-Pare setelah terkubur hampir tiga tahun di Pinrang.

Kisah lain dituturkan Aspar Paturusi. Ayahnya, Paturusi Daeng Pabeta, ditembak Belanda di hadapan keluarga mereka di Batukaropa, Kabupaten Bulukumba, sekitar 150 kilometer dari Kota Makassar. Aspar mengingat bahwa suatu malam mereka dibangunkan, kemudian disuruh keluar rumah sambil berjalan jongkok. Senapan laras panjang ditodongkan ke kepala orang-orang. Aspar kecil saat itu berada di gendongan sang bunda.

Selain ayahnya, Aspar pun kehilangan kakak, paman, dan sepupunya. Kakak Aspar, Abdul Azis Paturusi, adalah komandan operasi Laskar Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR). Azis, menurut cerita Aspar, menghadapi regu tembak dengan mata tidak ditutupi kain. Konon, sebelum meregang nyawa di hadapan regu tembak, tangannya diiris belati lalu ditetesi jeruk nipis.

“Dia seorang kiper terkenal di Kajang. Sorot matanya sangat tajam, dan dia tidak mau matanya ditutupi kain saat akan ditembak,” kenang Aspar.

Tak banyak yang bisa dikorek dari para saksi sejarah peristiwa yang terjadi 65 tahun lalu ini. Mereka sebagain besar telah wafat. Yang tersisa adalah anak-anak yang tetap menyimpan kenangan sedih tentang orang-orang tercinta yang harus meregang nyawa di depan matanya.***Andi Nur Aminah/republika/infokito

***disadur dari sebuah tulisan di harian republika

Kata Kunci

sulawesi selatan, makassar, westerling, kemerdekaan, perang, relief

___dilihat 1443 kali___

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 21 May 2011 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Bagikan

iklan gratishubungi kamibuku tamupeta situssiaran radio islamikoran nasional
Jadwal Sholat Online

ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati