| Revolusi Dulmuluk dari Masa ke Masa |
|
|
|
| Info Palembang - Khazanah Palembang | |
| Sunday, 01 August 2010 | |
|
Kesenian tradisional asli Palembang, Dulmuluk dulu pernah menjadi primadona. Sebelum dan sesudah era kemerdekaan RI, seni dalam bentuk tutur serta teater ini selalu menghiasi acara sunatan hingga pesta perkawinan. Munculnya teknologi, baik televisi, organ tunggal serta hiburan lainya membuat kesenian bernama asli Abdul Muluk sedikit terpinggirkan. Sejarah panjang kesenian Dulmuluk diyakini Muhsin Fajri, Ketua Himpunan Teater Tradisional Sumsel (HTTS) berasal dari Pulau Penyengat, Provinsi Riau. Tepatnya, pada akhir abad 17 menjelang abad ke-18. Cerita Dulmuluk ditulis oleh Raja Ali Haji dalam bentuk syair dengan huruf Arab gundul. Nama asli cerita itu sebenarnya Abdul Muluk. Namun, dalam perkembanganya, lebih dikenal dengan Dulmuluk. Banyak syair dikarang oleh Raja Ali Haji. Misalnya Pansuri, Gurindam 12 dan lainnya. Namun, syair Dulmuluk dibawa oleh pedagang keliling asal Arab Gujarat (Persia), Syech Ahmad Bakar yang dulu menetap di kawasan Tangga Takat, 16 Ulu, Palembang. Oleh Wan Bakar, panggilan Syech Ahmad Bakar, syair Dulmuluk tersebut diceritakanya kepada masyarakat pada tiap acara khitanan (sunatan). Ketika belum mengenal obat bius, anak yang hendak di khitan kata Muhsin, bagian tubuhnya dari perut hingga kaki direndam ke dalam bak kecil berisi air. Agar kemaluan sang anak mengkerut, tidak terasa sakit waktu disunat. Saat menunggu rendaman yang memakan waktu cukup lama inilah, keluarga dan tetangga yang tengah berkumpul dibacakan syair bernada melayu tersebut. Cerita Dulmuluk sendiri mengisahkan masalah sosial, dibumbui masalah percintaan serta komedi. Abidin putra raja Bermansyah ditentang ayahnya untuk menikah dengan seorang putri bernama Zubaidah. Di akhir cerita barulah diketahui, Raja Bermansyah yang menolak kehadiran Zubaidah karena bukan dari kalangan ningrat, salah menilai. Zubaidah ternyata seorang putri bangsawan. Sempat Dibubarkan BelandaDitangan Wan Bakar, Dulmuluk menjadi primadona. Tiap acara khitanan hingga kenduri (perkawinan) cerita Dulmuluk selalu menjadi hiburan tetap. Wan Bakar, lanjut Muhsin kemudian mempunyai banyak murid. Berasal dari Borneo (Kalimantan), Padang, Inderalaya, Muba serta kabupaten/kota di Sumsel. Namun, sekitar tahun 1937, kesenian dalam bentuk tutur ini dibubarkan Belanda. Penjajah menilai, ada pergerakan melawan pemerintah kolonial di balik kesenian tersebut. "Padahal, itu murni kesenian tidak ada pergerakan dituduhkan Belanda. Sejak dibubarkan, murid-murid Wan Bakar kembali ke daerah asalnya,” ujar Muhsin (53), warga Jl Lumpur II, RT 54 Kelurahan Sialang, Sako Palembang kepada Sumeks Minggu, dibincangi Kamis (29/7) lalu. Zaman Jepang, Berkembang Jadi TeaterPegawai Kantor Kementrian Agama Provinsi Sumsel ini melanjutkan, Dulmuluk kembali dihidupkan ketika Jepang masuk ke Palembang sekitar tahun 1942. Jepang yang ingin menarik hati rakyat Palembang, dengan slogan saudara tua, menyelamatkan penduduk pribumi dari penjajah Belanda, malah kesenian Dulmuluk menjadi sebuah hiburan yang lebih atraktif, yaitu dalam bentuk teater. Tokoh dalam cerita dalam syair Dulmuluk diperankan oleh beberapa orang, beraksi di atas panggung, lengkap dengan pakaian, serta kursi bagi para penonton di tanah lapang. "Tapi, teater Dulmuluk zaman Jepang, pemain kita masih kebanyakan duduk belum banyak berkembang seperti sekarang. Tapi, dalam bentuk teater inilah saya bisa katakana Dulmuluk sebagai kesenian asli Palembang. Karena di Palembang, Dulmuluk berkembang menjadi teater,” jelasnya. Usai zaman kemerdekaan RI, Dulmuluk sebenarnya jauh lebih berkembang. Sayang, dalam perjalanannya beberapa seniman Dulmuluk masuk dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), didalangi para komunis. Seniman yang tidak mengetahui masalah politik ini banyak ditangkapi era kepemimpinan Soeharto. Yang bisa melarikan diri juga tidak ingin menampakan diri. Masyarakat pun khawatir menggunakan hiburan tradisional ini. Akhir tahun 1970, kesenian ini mulai muncul kembali. Apalagi awal tahun 1980, seingat Muhsin, pemerintah mengeluarkan sinyal untuk melestarikan kesenian tiap daerah. Di salah satu televisi milik pemerintah, TVRI, Dulmuluk bahkan masuk sebagai salah satu acara. Bahkan di acara Budaya Daerah, kesenian ini tetap ditampilkan. Di televisi lokal kebanggaan wong kito, PalTV, grup Sumatera Ekspres, kesenian ini secara rutin ditampilkan dengan acaranya "Dulmuluk Bangsawan Palembang". Muhsin pun terlibat sebagai salah satu pemain pada acara yang telah digarap sejak tiga bulan lalu ini. Di PalTV, Dulmuluk berkembang lagi, menggunakan bahasa asli Palembang. Bahasa ini disesuaikan dengan penonton yang mayoritas wong Plembang. "Kalau di Banyuasin, ya pakai bahasa asli sana. Ada grup Dulmuluk di Muara Enim, menggunakan bahasa Muara Enim juga. Ya, psikologis kan beda kalau pakai bahasa daerah," jelasnya. ![]() Cuplikan adegan dulmuluk [foto:palembangbari.blogdetik.com] Sedikit Menyimpang, Lebih ke KomediMuhsin mengakui sejak berkembangnya televisi, bioskop, organ tunggal, band serta hiburan lainya, meski terus eksis Dulmuluk sedikit terpingirkan. Untuk terus eksis di dunia entertainment (hiburan), ketua Ketua Himpunan Teater Tradisional Sumsel ini meminta pada 14 group Dulmuluk di Sumsel, terus mengembangkan diri. Salah satu caranya dengan menampilkan tema-tema terkini dan berbau komedi untuk mengocok perut penonton yang dimasukan dalam cerita Dulmuluk. Agar teater lebih fresh, mengundang tawa penonton yang biasanya jenuh dengan persoalan politik, pekerjaan serta rutinitas lainya. “Pokoknya penonton harus tertawa. Memang sedikit menyimpang, tapi tidak meninggalkan bentuk kesenian aslinya,” jelasnya. Ternyata, dari sembilan group Dulmuluk di Palembang, empat di Banyuasin serta satu di Muara Enim menyambut baik gagasan Muhsin. Tiap minggu, grup Dulmuluk saat ini terus mendapat order pementasan. Harga dipatok untuk pementasan semalam suntuk, mulai pukul 21.00 WIB malam hingga pagi mencapai Rp5 juta. Untuk pementasan satu atau setengah jam, harganya mencapai Rp2 hingga 2,5 juta. “Di Banyuasin, saya pernah melihat penontonya antusias melihat kesenian yang dibawakan dengan bahasa asli Banyuasin. Padahal, di tempat itu ada organ, band dan hiburan lainya,” tandasnya.***(wwn/sumeks/infokito) Wallahua'lam
Kata Kuncidulmuluk, kesenian daerah, kesenian, kesenian tradisional, seni peran, seni tutur, abdul muluk, syair, wan abakar, khitanan, kenduri___diihat 2009 kali___ |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 01 August 2010 ) | |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


















