|
Yang dinamakan 'Rumah si Pitung' adalah tempat jagoan Betawi ini melakukan aksi perampokan. Entah bagaimana masyarakat setempat menyebutnya kediaman 'Robin hood dari Betawi', salah satu gelarnya. Padahal, dia lahir dan dibesarkan di Rawa Belong, Jakarta Barat.
Di tempat inilah dia belajar silat dari seorang pendekar bernama Haji Naipan yang sekaligus guru agamanya. Salah satu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini, si Pitung dapat menyerap energi kawan-kawannya.
Bagi warga Betawi, Pitung adalah kebanggaan mereka. Karena ia berhasil melakukan berbagai pemberontakan dan kerusuhan yang membuat penjajah kalang kabut. Dalam "Melancong Bareng Abah Alwi" pada Ahad 2 Juli 2011, para peserta mendatangi ‘kediaman si Pitung’ dan makan siang di tempat ini. Saat itu, rumah-rumah di daerah pesisir berupa panggung agar bila air laut pasang tidak terendam.
Ada kisah menarik tentang Pitung remaja. Saat itu usianya sekitar 16–17 tahun. Dia disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, dia dibegal beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia pun makin memperdalam ilmu maen pukulannya. Kemudian, dia melakukan ngumbara atau perjalanan menguji ilmunya ke tempat-tempat yang menyeramkan.
Ada yang berpendapat, demikian saktinya si Pitung hingga lawan-lawannya tidak bisa melihat keberadaannya. Menurut cerita rakyat Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai akhir hayatnya, menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.
Mengapa ada yang memberi gelar ‘Robinhood Betawi’? Meski tidak sama dengan ‘Robinhood’ si jago panah dari hutan Shedrwood, Inggris, setidaknya keduanya memliki sifat yang sama. Yaitu, selalu ingin membantu rakyat tertindas, baik dari kejahatan VOC maupun tuan-tuan tanah pemeras. Ada lagi cerita-cerita yang menyatakan: “Dia tidak mempan ditembak kecuali dengan peluru emas.” Seperti yang dilakukan oleh Scoot Heyne (kira-kira sekarang ini kepala polres).***alwishahab/republika ***disadur dari sebuah tulisan di harian republika
pitung, betawi, si pitung, marunda ___dilihat 1312 kali___ |