| Situs-Situs Megalitik Pasemah |
|
|
|
| Info Sumatera Selatan - Khazanah Sumsel | |
| Sunday, 05 July 2009 | |
|
Secara umum kebudayaan megalitik mengacu kepada dan berorientasi pada kekuatan-kekuatan supra natural yang mengaitkan pada kepercayaan akan adanya kekuatan gaib pada benda maupun makhluk hidup dan kepercayaan adanya kekuatan roh dan kekuatan pada arwah nenek moyang ( Haris Sukendar, 2003: 27 ). Interaksi manusia dengan leluhurnya mengalami perkembangan yang luar biasa pada masa berlangsungnya kebudayaan megalitik. Aspek religi pada masyarakat megalitik Pasemah bermuara pada eksistensi bangunan-bangunan megalitik yang terdapat di dataran tinggi Pasemah yang sudah mengalami kemajuan, seiring dengan terjaminnya kebutuhan hidup dan dengan ciri kehidupan yang sudah menetap.Eksistensi bangunan megalitik di dataran tinggi Pasemah oleh salah seorang arkeolog bangsa asing dikatakan: the strongly dynamic agitated yaitu berdasarkan atas bukti-bukti akan tampilnya arca-arca megalitik yang sifatnya dinamis dan menunjukkan perubahan-perubahan secara mendasar dari bentuk arca menhir yang sifatnya statis kepada arca-arca yang dipahatkan dengan anggota tubuh dan badan yang mengandung gerak bervariasi ( Haris Sukendar, 1999:8 ). Tradisi megalitik merupakan suatu tradisi yang berhubungan erat dengan batu-batu besar. Situs-situs megalitik di daratan tinggi Pasemah meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 meter dpl, karena terletak di dataran tinggi maka daerah ini mempunyai curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan batu hasil letusan gunung api Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batu-batuan vulkanis. Letusan gunung api inilah yang menyebarkan batu-batuan sampai ke daerah – daerah yang termasuk satuan morfologi bergelombang dan satuan morfologi daratan. Selain itu di daerah Pasemah terdapat alur-alur sungai besar dan kecil yang memudahkan transportasi air dan sumber kehidupan. Pada umumnya keadaan alam yang subur memudahkan mereka untuk berkebun dan membudidayakan ternak dan membuat rumah - rumah hunian dengan tiang yang tinggi. Data awal yang membahas tentang bangunan megalitik dan arca-arca megalitik di Pasemah adalah L.Ullmann,1850 yang menulis artikel tentang “Hindoe-belden in de binnenlanden van Palembang”. Selanjutnya E.P Tombrink dan Westenenk menyimpulkan yang sama bahwa peninggalan di daerah Pasemah merupakan hasil dari pengaruh Hindu. Kemudian pada tahun 1930 -1932 Van Erde seorang tokoh bangsa Belanda menugaskan ahli yang lain yaitu Van der Hoop untuk memulai penelitiannya tentang latar belakang tinggalan batu besar Pasemah. Dari penelitian yang dilakukannya tersebut maka pada tahun 1932 diterbitkanlah sebuah buku yang menarik berjudul “Megalithic Remains in South Sumatra”. Dari hasil penelitiannya ini maka terbukalah cara pandangbaru tentang tinggalan megalitik di bumi Pasemah. Penelitian tentang tinggalan megalitik di Pasemah ini selanjutnya diteliti lagi oleh beberapa arkeolog dari Puslitbang Arkenas di Jakarta dan juga oleh beberapa peneliti dari Balai Arkeologi Palembang. Berikut sejumlah situs yang mengandung tinggalan arkeologi di Pasemah Situs-situs Arca Megalitik
Lukisan pada batu cadas dan kubur batu
***sumber:
kata kuncikebudayaan megalitik, megalitik, pasemah, situs kebudayaan, arca• dilihat 9063 kali • |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 05 July 2009 ) | |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





















