jasad adam ... ruh muhammad ...
 
Kamis, 23 Februari 2012 • 30 Rabiul Awal 1433 Hijriah

Popular Content Scroller

Depresi Pasca Stroke dan Pengobatannya
Jasa Pengecatan Motif Petir
Melayani jasa pengecatan rumah, bangunan, tiang, pagar, kusen, taman dan CAT PETIR/DEKORASI untuk wilayah kota Palembang dan sekitarnya
Hub: SALIN - 085267076558
Notaris Rumiati Laila, SH
Jl. Letjen H. Alamsyah Ratu Prawira Negara No. 12 - Bukit Baru Palembang 30139 - Telepon (0711) 446050

 
Pasang Iklan
yahoo messenger status
infokito on facebook
 

Jadwal Sholat

Perkiraan Cuaca Kota Besar di Indonesia

sumber: bmg.go.id
Home arrow News arrow Berita Sumatera Selatan arrow Tim Arkenas Berhasil Temukan 17 Kerangka Manusia Kuno di Gua Harimau

selamat datang di portal infokito network - jembatan informasi kito                -- Info Terpadu Kota Palembang --          
Tim Arkenas Berhasil Temukan 17 Kerangka Manusia Kuno di Gua Harimau PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 2
BurukTerbaik 
The News - Berita Sumatera Selatan
Saturday, 16 April 2011

Tim Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI), berjumlah 13 orang, yang diketuai Prof DR Truman Simanjuntak berhasil menemukan 17 kerangka manusia kuno di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji Kabupaten OKU.

Truman Simanjuntak yang ditemui di lokasi penggalian Kamis (14/4) mengatakan Gua Harimau memperlihatkan indikator hunian prasejarah dan sekaligus hamparan kuburan. Terbukti sejak penelitian dari tahun 2008 hingga saat ini sudah 17 kerangka manusia kuno yang diperkirakan hidup 3.000 tahun lalu, ditemukan. Peneliti juga menemukan perkakas rumah tangga dari bahan logam.

Truman didampingi Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata OKU Aufa S Syarkomi, mengatakan tim peneliti akan melakukan penelitian dari tanggal 12 hingga 30 April mendatang di Gua Harimau. Menariknya tim peneliti juga menemukan satu kuburan dengan tiga tengkorak digabung dalam satu liang.

Menurut Truman, penemuan ini semakin unik dan menarik untuk diteliti. “Mungkin yang meninggal ini anak raja atau pemimpin, biasanya pengawalnya ikut dibunuh dan dikubur dalam satu lubang supaya anak raja ini bisa ada teman di dunianya yang baru,” terang Truman seraya menambahkan itu baru analisa sementara, karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.

Sejumlah kerangka manusia kuno ini dikubur dengan berbagai posisi (tidak satu arah), ada tengkorak orok. Baru separoh gua yang digali sudah ditemukan belasan tengkorak. “Sudah terlihat hamparan kuburan,” kata Truman seraya menambahkan dapat disimpulkan Gua Harimau merupakan hunian dan sealigus hamparan kuburan.

Berbeda dengan tempat-tempat lain yang biasanya kuburan tidak disatukan dengan hunian namun di Gua Harimau ini karena ukuran guanya luas sehingga bila ada anggota kelurga yang meninggal langsung dikubur di gua.

kerangka kuno
Tiga fosil kerangka manusia kuno bertumpuk
menjadi satu yang diperkirakan sudah berusia antara 2.000 sampai
3.000 tahun di Situs Gua Harimau Padangbindu Kecamatan
Semidangaji OKU [Foto: SRIPO/Leni Juwita]
kerangka manusia kuno
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan
dan Pariwisata OKU Aufa S Syarkomi SP MSc ikut membantu
membersihkan kerangka manusia purba di Situs Padangbindu [Foto: SRIPO/Leni Juwita]


Gua ini tergolong luas dengan ukuran pintu masuk dan ruang gua gua 40-50 M. Langit-langit atap gua sangat tinggi sekitar 20-35 meter. Sementara di tempat-tempat lain kata Truman biasanya kuburan berada di puncak-puncak gua supaya tidak mengganggu aktivitas penghuni gua.

Prof Truman kepada Aufa S Syarkomi yang melihat langsung aktivitas peneliti berjanji akan datang kembali ke lokasi. “Saya sangat tertarik dan ingin tahu lebih jauh seputar temuan penelitian di Gua Harimau ini,” kata Aufa. Sedangkan Truman mengungkapkan akan melakukan penelitian dari tanggal 11 hingga 30 April mendatang di Gua Harimau.

Truman memperkirakan ada ratusan kerangka manusia neolitikum lagi yang dikubur secara massal. “Padahal kita baru membuka separoh ruang gua. Gua yang cukup luas ini sekaligus juga komplek hunian manusia ras Mongoloid,” kata Truman.

Indikasi ras tersebut terlihat dari jejak-jejak hunian. Di antaranya, pecahan gerabah, tulang binatang, tulang manusia beragam alat batu seperti batu pukul, batu pahat, batu kampak dan lain-lain.

Yang menarik lagi, 17 kerangka manusia itu masih utuh. Juga diperoleh temuan lepas seperti gigi, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang belum dilakukan studi populasi. “Ada tiga kotak lagi sedang digali dan sudah terlihat sebagian tengkorak,” jelas Truman.

Diungkapkan, jarak antara satu individu dengan individu lainnya sangat dekat. Sementara lokasi kuburan menyebar di seluruh kotak yang digali. Ini, kata Tuman, mengidentifikasikan Gua Harimau sebagai kuburan massal. Menariknya lagi, lanjut Truman, tiga dari belasan kerangka sepertinya dikubur pada saat bersamaan dalam satu liang. Sementara tepat di bawah rangka utama, dua rangka individu lain terlihat saling bersentuhan dalam posisi seperti bagi menyangga sang raja atau majikan yang dikubur di atasnya.

Posisi penguburan yang unik ini, kata Truman, masih menjadi tanda tanya tersendiri. Mungkinkah temuan kuburan massal itu memperlihatkan yang meninggal adalah raja dan dua rangka lain yang menyangga adalah pengawal yang dibunuh saat tuannya meninggal. “Lalu dikubur bersama dalam satu liang. Supaya majikan ada teman di dunia baru,” katanya.

Atau ada juga kemungkinan dua kerangka yang menyangga rangka utama ini adalah hewan peliharaan kesayangan sang majikan yang ikut dikubur berdampingan dalam satu liang dengan majikan. Menurut Truman segala kemungkinan selalau ada tapi yang pasti seluruh rangka manusia yang ditemukan di Gua Harimau adalah sisa-sisa rangka manusia prasejarah dari Ras Mongoloid.

Peneliti yakin kuburan massal di Gua Harimau adalah Ras Mongoloid berangkat dari ciri-ciri morfologis rangka temuan. Terutama bentuk tengkorak yang meninggi dan membundar (brachycephal), tulang tengkorak bagian belakang (occiptal) yang datar. Morfologis gigi seri, bentuk orbit mata, kedalaman tulang hidung (nasal) serta postur tulang dan tubuhnya khas Mongoloid.

Strata Sosial

Yang masih menjadi pertanyaan pula, kata Truman, mungkinkah dalam sistim penguburan pada masa itu (antara 3.500 dan 2000 tahun yang lalu) manusia prasejarah telah mengenal strata sosial.

Apabila ada tokoh orang-orang yang dianggap ditokohkan meninggal maka perlu ada yang tetap melayani layaknya seperti di dunia maka setelah matipun dia tetap mendapat pelayanan dari abdinya.

Posisi penguburan menurut peneliti juga mengisyaratkan siklus kehidupan. Individu-individu kerangka yang ditemukan umumnya dikubur dengan orientasi Timur (kepala) dan Barat (kaki). Arah Timur sebagai lokasi kepala adalah arah matahari terbit. Sedangkan barat sebagai arah kaki adalah arah matahari tenggelam.

Dalam konteks ini penguburan dengan orientasi semacam ini mengacu kepada asal mula (Timur) dan akhir (Barat) dalam kehidupan. Filosofi itu juga tercermin dari penguburan berlipat yang menggambarkan prosesi bayi di dalam perut sebelum lahir. “Dengan mengubur secara berlipat diharapkan pada saat kematian yang bersangkutan telah dibebaskan dari segala belenggu duniawi dan dikembalikan pada kehidupan awal pada saat mati.

Sakit Gigi Rupanya Warisan Leluhur

Ada yang menarik dari penemuan rangka manusia prasejarah di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidang AJI OKU. "Gigi manusia zaman itu bolong dan keropos," kata Ketua Tim Peneliti Prof DR Truman Simanjuntak, Jumat (15/4).

Temuan ini, katanya, menunjukan penyakit gigi keropos ini merupakan warisan leluhur dan sangat menonjol pada Ras Mongoloid dengan budaya Austronesia yang merupakan cikal bakal sebagian besar manusia Indonesia.

Menurut Truman, penyakit gigi ini terkait pola makan. Dari ciri-ciri morfologis, kuburan massal di Gua Harimau menunjukan identitas mereka sebagai bagian dari Ras Mongoloid. Kecenderungan umum pada kehidupan manusia prasejarah Ras Mongoloid lebih bertumpu pada kegiatan meramu tumbuhan. Model pola makan inilah yang diduga menjadi penyebab gigi mereka rusak.

Ras Mongolid baru muncul di Nusantara sejak 400 tahun lalu. Dengan pola makan diet lebih bertumpu pada makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Penyakit keropos gigi terlihat begitu menonjol.

Jenis makanan yang banyak mengandung karbohidrat seperti padi-padian, talas dan umbi-umbian akan meninggalkan sisa makanan yang lebih melekat pada gigi. Karbohidrat juga memberikan banyak zat gula yang diketahui sebagai penyumbang munculnya karies gigi.

Pola dan kebiasaan makanan manusia Mongoloid prasejarah yang lebih bertumpu pada karbohidrat itu diduga terus berkembang ketika mereka membangun peradaban baru di luar gua menjadi manusia menetap dengan membuka ladang-ladang pertanian. Pola makan seperti ini terus diwariskan kepada anak cucu, keturunan mereka (termasuk kita, Red).***eni/sripo

***disadur dari sebuah tulisan di harian sriwijaya post

Kata Kunci

arkeologi, gua harimau, OKU, gua, prasejarah, kerangka, penelitian, peneliti, manusia kuno, sakit gigi

___dilihat 1518 kali___

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 16 April 2011 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Bagikan

iklan gratishubungi kamibuku tamupeta situssiaran radio islamikoran nasional
Jadwal Sholat Online

ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati