|
Ada beberapa orang Belanda yang namanya cukup melekat di benak rakyat Indonesia. Raymond Pierre Paul Westerling atau lebih dikenal Kapten Westerling salah satunya. Bagi masyakat Sulawesi Selatan, dialah sumber pertumpahan darah dan air mata yang dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 Jiwa atau peristiwa 11 Desember 1946. Selain di Sulsel, ia juga pernah melakukan percobaan kudeta melalui Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dibentuknya di Bandung, Jawa Barat, yang juga menelan cukup banyak korban nyawa.
Westerling lahir di Istanbul, Turki, 31 Agustus 1919 dan meninggal di Purmerend, Belanda, 26 November 1987. Ia adalah anak kedua pasangan Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Meskipun ia berkebangsaan Belanda, Westerling dijuluki ‘Si Turki’ karena lahir di Istanbul. Saat usia lima tahun, orang tuanya berpisah dan Westerling ditinggalkan di panti asuhan.
Karier dinas militer diawalinya pada 1941 di Kanada. Ia pernah menjalani pelatihan khusus di Skotlandia dan pernah bertugas di Brigade Princes Irene, dekat Birmingham. Westerling masuk dalam jajaran angkatan pertama dari 48 orang Belanda yang memperoleh latihan khusus Commando Basic Training Centre di Achnacarry. Suatu daerah di kawasan Skotlandia yang tandus, dingin, dan tak berpenghuni. Mereka yang dilatih di tempat ini diibaratkan berada di neraka dunia. Materi yang dilatihkan kepada mereka, antara lain perkelahian tangan kosong, penembakan tersembunyi, berkelahi dan membunuh tanpa senjata api, serta membunuh pengawal.
Di Skotlandia inilah, ia memperoleh baret hijaunya. Di pasukan komando ini, Westerling memiliki spesialisasi sabotase dan peledakan. Ia juga bergabung sebagai pasukan baret merah The Special Air Service (SAS), pasukan khusus Inggris yang terkenal.
Putra pedagang karpet ini pun pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London. Ia pun pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, perwira angkatan laut yang juga bangsawan Inggris. Westerling pun pernah menjadi instruktur pasukan Belanda khusus untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara. Namun, ia pun pernah dipekerjakan di dapur sebagai pengupas kentang.
Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan Depot Speciale Troepen (DST) atau Depot Pasukan Khusus. Penunjukan Westerling di posisi ini awalnya hanya untuk sementara, sampai diperoleh komandan yang tepat. Namun, ia berhasil meningkatkan mutu pasukannya menjelang penugasan ke Sulsel. Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946. Ia membawahi 120 pasukan DST. Di sinilah Westerling menyusun strategi penumpasan pemberontakan dengan caranya sendiri.
Ia tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger/VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional). Padahal, buku ini adalah pedoman untuk taktik kontra pemberontakan, di mana telah diatur berbagai ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan.
Pada 5 Januari 1948, nama DSR berubah menjadi Korps Speciale Tropen (KST) atau Korps Pasukan Khusus. Westerling pun dipercaya memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat, dengan pangkat dinaikkan dari Letnan menjadi Kapten. Sejak ditugaskan ke Sulsel, korban-korban Westerling dan pasukannya tak terhitung banyaknya.
Di Sulsel, pergerakan dan perlawanan terjadi di mana-mana. Inilah yang membuat penjajah Belanda berang dan mendatangkan Kapten Raymond Westerling, sang penjagal. Belanda khawatir akan kehilangan daerah jajahan total di Indonesia akibat perkembangan diplomasi politik dan militer di Jawa, pasca Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus l945.
Strategi untuk mendirikan negara-negara boneka yang bernaung di bawah Republik Indonesia Serikat (RIS) muncul. Di Indonesia Timur dibentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang bermarkas di Makassar. Pihak Belanda menyikapi hal ini dengan membentuk Comanding Officer Netherlands-Indies Civil Administration (CONICA) di setiap daerah. Hal ini memunculkan protes dan aksi penentangan dari raja-raja serta para tokoh pergerakan nasional di setiap daerah.
Raja Bone, Andi Mappanyuki, misalnya, menentang pembentukan CONICA dengan meninggalkan Bone bersama anaknya, Andi Pangeran Petta Rani, tokoh pergerakan yang pernah tercatat sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pergerakan dan perlawanan rakyat terus bermunculan seiring dengan upaya Belanda berusaha kembali menancapkan kukunya. Inilah yang membuat para raja dan kelompok bangwasan anti-Belanda mengadakan pertemuan di Jongaya, 15 Oktober 1945. Pertemuan tersebut menghasilkan satu ikrar bersama, yaitu berada di belakang Republik.
Setelah pertemuan Jongaya, tak lama berselang, dilaksanakan pertemuan para Raja se-Afdeling Parepare atas prakarsa Bau Massepe. Belanda kemudian berupaya memperlemah semangat dan kekuatan pro-Republik. Dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, tentara sekutu Australia mengancam akan menembak mati setiap orang yang terbukti memiliki senjata api, termasuk pedang, keris, badik, dan tombak. Namun, Belanda dengan politik devide et impera memang terus berjalan. Tak terkecuali pada kalangan bangsawan.
Raja-raja dan kaum bangsawan pun terpecah. Banyak raja yang berpihak kepada Republik, banyak pula yang pro-Belanda. Situasi politik yang tak menentu membuat sekelompok bangsawan ragu akan kedudukan mereka, yang akhirnya memutuskan kembali meneruskan kerja sama dengan penguasa baru, CONICA. Namun, semangat juang kelompok bangsawan yang pro-Republik tak berkecil hati dengan kondisi tersebut. Aksi perlawanan bahkan terus terjadi di mana-mana.
Akhirnya, Belanda memutuskan menangkap para pemimpin pergerakan, seperti Andi Mapanyukki yang ditangkap dan diasingkan di Rante Pao (Tana Toraja). Nama-nama seperti Andi Pangerang Petta Rani, Andi Baharuddin, Sultan Daeng Raja, Andi Abdullah Bau Massepe, Andi Pawelloi, Andi Solippase, Andi Hamzah, Andi Abdullah, dan Andi Suppa, juga ditangkap oleh Belanda.***Andi Nur Aminah/republika/infokito ***disadur dari sebuah tulisan di harian republika
westerling, belanda, sulawesi selatan, makassar ___dilihat 1381 kali___ |